Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Menpera Minta Jokowi Naikkan Koefisiensi Bangunan

Written By Unknown on Sabtu, 02 Maret 2013 | 09.35

Sabtu, 02 Maret 2013 | 04:46 WIB

TEMPO.CO , Jakarta: Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mendesak Pemerintah DKI Jakarta menaikkan koefisiensi luas bangunan dari semula 3,5 menjadi 6. "Ini dilakukan agar pembangunan rumah susun sewa dan rumah susun milik di Jakarta bisa lebih menarik bagi pengembang, sehingga pembangunan juga lebih lancar," kata Djan di Hotel Gran Mahakam, Jumat, 1 Maret 2013.


Untuk memuluskan keinginannya, Djan mengaku sudah mengirim surat permintaan penambahan koefisiesi luas bangunan kepada Pemerintah DKI Jakarta. Namun hingga saat ini, lanjut dia, belum ada tanggapan balik dari Pemerintah DKI Jakarta.

Koefisiensi luas bangunan enam, kata Djan, pernah diterapkan pada Gubernur DKI Sutiyoso. Dengan nilai koefisiensi 6, maka pembangunan rumah susun bisa mencapai 24 lantai. Dengan demikian, unit rumah yang terbangun lebih banyak dan pengembang lebih bersemangat membangun rumah susun yang sebenarnya tidak terlalu banyak memberikan untung.

Namun, ketentuan tersebut diubah seiring dengan pergantian pemerintahan Gubernur DKI Jakarta. Koefisiensi luas bangunan DKI kemudian ditetapkan 3,5 sehingga rumah susun hanya bisa dibangun dengan ketinggian maksimal 12 lantai. Akibatnya, kata Djan, pengembang malas membangun karena unit yang bisa terbangun lebih sedikit dan buntutnya pembangunan rumah susun menjadi terhambat.

"Sebenarnya secara prinsip, Gubernur Joko Widodo sudah menyetujui permintaan kami ini," kata Djan. Hanya saja, lanjut dia, Pemerintah DKI masih mengkaji kemungkinan perubahan koefisiensi luas bangunan tersebut di internal pemerintahannya. Oleh sebab itu, Djan masih optimistis Pemerintah DKI akan menaikkan nilai koefisiensi bangunan.

Selain dengan mendesak perubahan koefisiensi luas bangunan, Kementerian Perumahan Rakyat juga memberikan berbagai kemudahan bagi pengembang yang mau membangun rumah susun sewa atau rumah susun milik. Misalnya, dengan memberikan public service obligation pada pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial rumah susun.

Selain itu, Kementerian juga tengah menjalin berbagai kerja sama dengan pemerintah daerah berbagai badan usaha milik negara agar rumah susun bisa dibangun di atas lahan tak terpakai mereka. Dengan demikian, pengembang dapat menghemat biaya pembangunan karena tidak perlu membeli tanah dan investasi di rumah susun jadi lebih menarik.

RAFIKA AULIA


09.35 | 0 komentar | Read More

Gagal Rampas Tas, Pencuri Lukai Korbannya

Sabtu, 02 Maret 2013 | 06:04 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Deny Sofyan, 30 tahun, mengalami luka di bagian dada dan tangan kirinya akibat terlibat perkelahian dengan dua pria tak dikenal. Kejadian bermula saat warga Jalan Sosial RT 09 RW 02, Wijaya Kusuma, Jakarta Barat ini melintas di Jalan Daan Mogot, tak jauh dari Rumah Duka Abadi, Tanjung Duren, Jakarta Barat pada Kamis malam, 28 Februari 2013.

"Dua orang yang naik sepeda motor mencoba merampas tas tapi korban melawan," kata Kanit Reskrim Polsek Metro Tanjung Duren, Ajun Komisaris Budi Setiadi, Jumat 1 Maret 2013. Dari pengakuan korban, malam itu dua pencuri tadi memepet dan menghentikan laju motor Deny.

Salah satu pelaku kemudian menodongkan senjata tajam ke arah Deny. Namun ternyata Deny melakukan perlawanan yang akhirnya menyebabkan luka. "Tas korban sendiri tidak sampai dirampas," kata Budi. Upaya perlawanan Deny ternyata diketahui oleh warga sekitar dan mencoba mengejar dua pelaku.

"Tapi pencuri lolos," ucap Budi. Deny yang mengalami luka lantas dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Lantaran lukanya tidak serius, usai melapor ke Polsek Tanjung Duren, Deny pun kembali ke rumah.

ADITYA BUDIMAN

Berita terpopuler lainnya:
Bisnis Mahdiana, Istri Kedua Djoko Susilo 
KPK: Silahkan Lapor Data Ibas
Nikah Kedua, KUA Mencatat Djoko Susilo 'Single' 
Bradley Manning Beber Pembocoran Rahasia Wikileaks
Ferguson Ingin Jadi Direktur Manchester United 
Demokrat Akan Gelar KLB Sebelum April 
Kisah Djoko Susilo dan Anak Yatim Piatu
Ada Nama Anas dalam Dokumen Aliran Dana Hambalang


09.35 | 0 komentar | Read More

Pasien Membludak, Cleaning Service Jadi 'Apoteker'  

Sabtu, 02 Maret 2013 | 06:52 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Salamah, 51 tahun, punya tugas baru. Setelah urusan menyapu, mengepel, dan bersih-bersih selesai, dia harus bersiaga di balik loket obat. Perempuan yang bekerja sebagai tenaga cleaning service di Puskesmas Kelurahan Koja, Jakarta Utara, ini turut membantu, dari mencarikan obat di daftar resep sampai mengaduk puyer. "Enggak bakal selesai kalau apotekernya saja yang kerja," ujar Salamah kemarin.

Kesadaran Salamah membantu melayani pasien di Puskesmas Koja bukan tanpa alasan. Sejak Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meluncurkan Kartu Jakarta Sehat pada 10 November tahun lalu, jumlah pasien di Puskesmas itu melonjak.

Kepala puskesmas, Endang Sulistyani, mengatakan kini setiap hari ia harus melayani ratusan pasien. "Padahal, sebelum ada Kartu Jakarta Sehat, hanya puluhan pasien," ujarnya. Sedangkan petugas Puskesmas hanya 6 orang, yakni 1 dokter, 2 perawat, 1 apoteker, 1 administrator, dan 1 pelayan kebersihan. "Kalau begini terus, bisa-bisa saya yang masuk rumah sakit," ujar Endang.

Rujianingsih, apoteker di puskesmas itu, mengatakan membludaknya pasien membuat waktu istirahat dan ibadah tertunda. Untuk minum seteguk air pun, Rujianingsih mesti pintar-pintar mencuri waktu. "Kami harus melayani semua pasien sampai selesai dan baru bisa makan siang sekitar jam 14.00," katanya.

Puskesmas Kapuk II, Cengkareng, Jakarta Barat, punya cara untuk menyiasati lonjakan jumlah pasien. Kepala puskesmas, dokter gigi Emanuel Ayub, mengatakan petugas membagi antrean pasien menjadi dua sejak di loket pendaftaran. Antrean pertama untuk mereka yang sakit ringan, seperti pusing, batuk, dan flu. "Diperiksa dua-tiga menit, selesai," katanya. Sedangkan antrean kedua bagi pasien yang membutuhkan tindakan medis.

Di puskesmas itu terdapat lima petugas. Satu dokter gigi sekaligus dokter umum, 1 bidan, 2 perawat, dan 1 petugas loket. Dalam sehari, puskesmas ini kedatangan sekitar 120 pasien. "Saya melayani 40-50 pasien per hari," katanya. "Kalau ada tambahan tenaga, itu bagus sekali."

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati, mengatakan lonjakan jumlah pasien yang menggunakan layanan kesehatan gratis tak berbanding lurus dengan jumlah dokter dan petugas medis. Jumlah dokter pegawai negeri di Ibu Kota, kata dia, sekitar 7.000 orang, sedangkan dokter non-pegawai negeri 200 orang. "Mereka ditempatkan di tiap rumah sakit daerah dan puskesmas," ujarnya.

ISTMAN MP | ADITYA BUDIMAN | DIMAS SIREGAR

Berita terpopuler lainnya:
Bisnis Mahdiana, Istri Kedua Djoko Susilo 
KPK: Silahkan Lapor Data Ibas
Nikah Kedua, KUA Mencatat Djoko Susilo 'Single' 
Bradley Manning Beber Pembocoran Rahasia Wikileaks
Ferguson Ingin Jadi Direktur Manchester United 
Kisah Djoko Susilo dan Anak Yatim Piatu
Demokrat Akan Gelar KLB Sebelum April


09.35 | 0 komentar | Read More

Ini Pengakuan Brimob yang Dikeroyok Penumpang KRL  

Written By Unknown on Jumat, 01 Maret 2013 | 09.35

Kamis, 28 Februari 2013 | 22:05 WIB

TEMPO.CO, Depok -- Ratusan penumpang KRL Ekonomi rute Jakarta-Bogor menyerbu dan memukuli dua petugas Brigade Mobil di Stasiun Depok Lama, Kamis, 28 Februari 2013. Insiden itu dipicu oleh tindakan keras polisi yang memukul seorang penumpang yang duduk di atap kereta api.

Dua petugas Brimob yang jadi korban diketahui berasal dari Satuan Pelopor Kelapa Dua. Mereka adalah Brigadir Satu Ahmad Rifai dan Brigadir Satu Eko Muliana.

Menurut Brigadir Satu Ahmad Rifai, insiden bermula ketika petugas tengah menertibkan penumpang yang duduk di atap KRL. Ketika kereta memasuki stasiun sekitar pukul 18.30, sejumlah penumpang yang duduk di atap melempari petugas dengan botol kaca. "Itu mereka lakukan setiap hari dan banyak korbannya," kata Rifai.

Ketika kereta ekonomi berikutnya masuk sekitar pukul 19.30, petugas bertindak tegas untuk langsung menertibkan. Petugas menyuruh semua penumpang di atap turun. "Tapi ada satu orang yang ngoceh dengan bahasa kasar. Saya tonjok," kata Rifai mengakui. Setelah dipukul, Rifai menyeret penumpang itu menuju pintu keluar stasiun. "Tapi dia enggak ada takutnya, malah minta ditembak."

Karena situasi makin ramai oleh teriakan dan sorakan penumpang, Rifai berinisiatif mengeluarkan pistol dan melepas tembakan peringatan. Dia mengaku hanya memakai peluru hampa.

Malang tak dapat ditolak. Mendengar suara senjata, para penumpang berubah beringas. Mereka melompat turun dari atap kereta dan menyerbu petugas Brimob. "Kami semua diserang, tapi hanya saya dan Eko yang luka," katanya.

Setelah babak belur, Rifai dan Eko berhasil meloloskan diri serta lari ke loket karcis. Penumpang pun tak mengejar dan kembali naik ke atas kereta. Ketika itulah mendadak terdengar lagi suara tembakan. Ini lagi-lagi memicu emosi massa, yang kembali berlompatan turun, lalu menyerbu polisi.

"Iya memang saya yang tembak lagi," kata Rifai mengakui. "Saya sudah bingung, soalnya ada ribuan orang," katanya.

Rifai mengalami luka ringan di tangannya akibat pecahan beling. Sedangkan Eko agak parah. Kepalanya berdarah dan kedua sikunya lebam terkena lemparan batu.

Kepala Stasiun Depok Lama, Dwi Purwanto, menyesalkan bentrok tersebut. Menurut dia, program penertiban penumpang tak akan dihentikan. "Ini setiap hari dilakukan. Tetapi penumpang tak pernah sadar, malah melakukan hal-hal yang memancing petugas," katanya kesal.

ILHAM TIRTA

Berita Terpopuler:
Anas Minta Amir Ungkap Gebrak Meja SBY di Cikeas 
5 Alasan Mahfud Soal Kasus Hukum Anas Urbaningrum 
Djoko Susilo Ternyata Punya Istri Lain di Jakarta 
Mahfud: Wajar Saya Simpati pada Anas Urbaningrum


09.35 | 0 komentar | Read More

Jakarta Bakal Punya Layanan 911

Kamis, 28 Februari 2013 | 23:47 WIB

TEMPO.CO, Jakarta -Polda Metro Jaya tengah mempersiapakan layanan panggilan darurat 911 untuk warga Jakarta. Direktur Lalu Lintas Polda, Komisaris Besar Chryshnanda Dwi Laksana mengatakan, dia sedang membuat sistem terpadu panggilan darurat tersebut. "Tidak hanya dikerjakan oleh polisi, tapi juga instansi lain dari pemerintah provinsi. Salah satu yang dibangun nantinya adalah 911 seperti yang sudah ada di seluruh dunia," katanya kepada Tempo, Kamis 28 Februari 2013.

Diharapkan sarana panggilan darurat itu nanti akan lebih baik dari sistem panggilan darurat yang saat ini ada. Hari ini, rombongan National Emergency Number Association (NENA) datang ke layanan TMC. "Public safety telah menjadi isu global. Kami berpengalaman membantu peningkatan keamanan warga, membangun sistem 911 di berbagai negara di dunia," ujar Gary Payne, NENA Ambassador.

Dia mengaku mendapat undangan dari Pemerintah Provinsi DKI sejak tahun lalu untuk membantu pembuatan sistem 911 di Jakarta. "Idenya, dengan wewenang pemerintah dan kerjasama dengan polisi, kami ingin mendesain sistem keamanan publik tercanggih seperti 911 untuk warga Jakarta."

Dia menjanjikan standard internasional, praktisi terbaik, dan pengembangan masterplan untuk Jakarta dengan standard internasional. "Tidak hanya dalam menerima panggilan darurat, tapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan." Selain itu, program mereka juga menganalisis lalu lintas Jakarta. "Termasuk menganalisis performa kendaraan, seberapa cepat kendaraan berpindah dari satu tempat ke tempat lain."

Menurutnya, sistem 911 mungkin diterapkan di Jakarta. Payne membandingan dengan kota-kota lain yang juga punya masalah kemacetan. "Ada kemacetan di New York, Los Angeles, London, tapi tetap bisa merespon panggilan darurat dalam 2-8 menit. Kenapa Jakarta tidak?" katanya.

Meski tidak mudah, dia yakin 911 bisa tercipta dengan sumber daya teknis, teknologi, teknik pengoperasian, dan pelatihan yang baik. Sebagai awalan, tim NENA akan datang lagi ke Jakarta pada April untuk selama 6 bulan mengkaji sistem yang berlaku sekarang. "Tim pencari fakta kami terdiri dari polisi, petugas kebakaran, dan ambulan yang akan bekerjasama dengan pemerintah memetakan kondisi sekarang."

Sistem panggilan darurat terpadu nantinya terdiri dari petugas pemadam kebakaran, layanan kesehatan darurat, satpol PP, dan ambulan. Payne mengakui sistem akan butuh biaya besar. Namun, dia enggan merinci pendanaannya.

ATMI PERTIWI


09.35 | 0 komentar | Read More

Puskesmas Koja Dirobohkan Bulan Depan

Jum'at, 01 Maret 2013 | 05:38 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara Bambang Suheri mengatakan segera merobohkan Puskesmas Kelurahan Koja, Jakarta Utara untuk direnovasi pada April 2013. "Kondisinya memprihatinkan, sudah nyaris ambruk," kata Bambang, kemarin.

Menurut dia, saat ini pemerintah bersiap melakukan lelang untuk mencari kontraktor yang baru. Selain tengah memproses lelang, Bambang menambahkan, pemerintah juga sedang mencari ruko untuk menjadi pengganti sementara puskesmas.

Jika tidak dapat, maka akan digantikan dengan rumah yang luasnya minimal 450 meter persegi. Setiap ruangannya kemudian bisa disekat-sekat menjadi ruang pemeriksaan, dan lainnya. "Tapi tahu sendiri, sulit mencari kontrakan yang ideal," ujar Bambang.

Kepala Puskesmas Endang Sulistyani mengatakan kondisi tempatnya bekerja sangat mengkhawatirkan. "Bagian depan nyaris ambruk, ruang rekam medik bocor, dan tak ada pendingin," ujarnya.

Endang menambahkan belum mengetahui rencana perobohan Puskesmas bulan depan. "Kalau sudah diberitahu, kami akan segera memberi tahu para pasien," ujarnya.

Ditanyai apakah akan segera mencari kontrakan pengganti bangunan puskesmas yang hendak direhab, Endang malah mengaku sudah punya wilayah kontrakan yang hendak dituju. Ia berkata, bangunan itu berbentuk rumah dan berada di daerah Fort Timur, namun ia tidak menyebutkan alamat detilnya.

ISTMAN MP

Berita terpopuler lainnya:
Anas Minta Amir Ungkap Gebrak Meja SBY di Cikeas 
5 Alasan Mahfud Soal Kasus Hukum Anas Urbaningrum 
Djoko Susilo Ternyata Punya Istri Lain di Jakarta 
Mahfud: Wajar Saya Simpati pada Anas Urbaningrum
Mahar Djoko untuk Nikahi Dipta Layak Masuk MURI 
Bank Jabar Banten: Kami Cuma Korban Kredit Fiktif 
Bau Pencucian Uang di Mahar Djoko untuk Dipta 
Anas Urbaningrum Harus Hadapi Secara Hukum


09.35 | 0 komentar | Read More

Polisi Periksa Kejiwaan Ibu Pembunuh Anaknya  

Written By Unknown on Kamis, 28 Februari 2013 | 09.35

Rabu, 27 Februari 2013 | 20:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta -  Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur memeriksa kejiwaan ibu yang membunuh anak kandungnya sendiri hari ini, Rabu 27 Februari 2013. RP, 39 tahun, tersangka membunuh anak kandungnya, VR , 9 tahun, di Jatinegara, Selasa siang, 26 Februari 2013.

Kepala Polres Jakarta Timur Komisaris Besar Mulyadi Kaharni mengatakan pemeriksaan psikologis RP ini untuk mengetahui mengapa dia tega membunuh anaknnya sendiri. "Hari ini tersangka menjalani tes psikologi," kata Mulyadi di Mapolres Jakarta Timur, Rabu, 27 Februari 2013.

Menurut Mulyadi, alasan tersangka membunuh putranya karena malu dengan kondisi fisiknya dinilai tidak masuk akal. Sebab, kata dia, kondisi sang anak normal. "Kondisinya normal-normal saja, bapaknya juga bilang anaknya normal," ujarnya.

Faktor ekonomi, kata Mulyadi, juga tidak menjadi penyebab RP membunuh VR. "Unsur ekonomi tidak ada karena penghasilan bapaknya Rp 5 juta yang bekerja sebagai sales cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujarnya.

Seorang bocah laki-laki 9 tahun berinisal VR tewas dibunuh ibu kandungnya, RP, 39 tahun. VR dibunuh di rumahnya di Jatinegara, Cakung, Selasa siang, 26 Februari 2013. VR dibunuh karena sang ibu merasa malu dengan kemaluan anaknya yang sehabis disunat semakin kecil.

RP menghabisi nyawa VR dengan membenamkan kepala korban ke ember bak dengan kondisi tangan terikat. Setelah korban tidak bernafas, tersangka mengangkat korban dan mengelap korban, kemudian dipakaikan baju. Kemudian tersangka menjemput menjemput kakak korban yang berinisial CS, 13 tahun, di sekolahnya. Setelah itu tersangka menyerahkan diri ke Polres Jakarta Timur.

AFRILIA SURYANIS


09.35 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger