Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Pengacara: Hercules Bukan Orang Liar

Written By Unknown on Minggu, 11 Agustus 2013 | 09.35

TEMPO.CO , Jakarta:Hercules Rozario Marshal, 45 tahun, telah ditahan sejak 4 Maret 2013. Ia adalah terpidana kasus melawan aparat penegak hukum yang sedang apel. Pada 3 Agustus 2013 di saat ia bebas, pria kelahiran Timor-Timur ini kembali ditangkap oleh Polres Metro Jakarta Barat. Ketua Gerakan Rakyat Indonesia Baru ini diduga melakukan pemerasan dari 2006 hingga 2013 di Jakarta Barat.

Namun, pengaca Hercules, Boyamin Saiman membantah kliennya sebagai orang liar. Hercules, kata dia, memiliki bisnis jelas di beberapa bidang seperti properti, perikanan, pendidikan, dan jasa keamanan. Hercules adalah Komisaris Utama di PT Titu Harmoni. Di perusahaan tersebut, Hercules mempekerjakan 200 karyawan untuk mengamankan ruko-ruko.

Di bidang pendidikan, Hercules adalah pemilik tunggal Lembaga Pendidikan Kejuruan Saint Mary di Jalan AM Sangaji, Kelurahan Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat. "Selain itu, ia juga bermain di bisnis jual-beli ikan segar yang memasok beberapa pasar domestik," kata Boyamin saat ditemui setelah membesuk Hercules di Markas Polda Metro Jaya pada Sabtu, 9 Agustus 2013.

Belum lagi, lanjut Boyamin, Hercules adalah makelar tanah yang ulung di Jakarta. Dari situ, Hercules memetik keuntungan yang relatif besar. "Belum lagi dengan berbagai bisnis kerja sama dengan partner-partnernya," tutur Boyamin. Sehingga, lanjut Boyamin, dalam satu bulan Hercules bisa mengantongi kurang lebih Rp 500 juta.

Oleh sebab itu, ia menolak jika kliennya disebut sebagai orang liar atau preman yang memeras. "Yang terjadi justru banyak ruko yang mengajukan agar masuk dalam prioritas keamanan Hercules," ucapnya. Sehingga, ia menganggap tidak ada istilah pemerasan di sana. Ini lantaran memang sudah ada klausul perjanjian dari dua belah pihak. "Ada bayaran untuk setiap keringat yang dikeluarkan."

Kepala Polisi Resort Jakarta Barat, Komisaris Besar Polisi M Fadil Imran mengatakan bahwa sejak 2006 kepolisian sudah menerima empat pelapor terkait kasus pemerasan dan pencucian uang yang melibatkan Hercules.

MUHAMMAD MUHYIDDIN


09.35 | 0 komentar | Read More

5 Saksi Penembakan Aiptu Dwiyatna Diperiksa

TEMPO.CO , Jakarta:Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi terkait penembakan Ajun Inspektur Satu Dwiyatna, anggota pembinaan masyarakat (Binmas) Polsek Cilandak.

Menurut Rikwanto, olah lokasi kejadian (TKP), polisi telah mendapatkan buktik selongsong peluru yang digunakan pelaku. "Kaliber 9 mm, sedang dicek di laboratorium," kata Rikwanto di Jakarta, 10 Agustus 2013.

Rikwanto mengatakan penyidik merupakan gabungan dari Polri, Polda dan Polres. "Sedang dilakukan pendalaman (kasus penembakan tersebut)," kata dia. Polisi sedang mencermati kondisi di lapangan. Tim detasemen khusus (densus) 88 juga sedang memeriksa kasus tersebut. "Mudah-mudahan segera terungkap."

Aiptu Dwiyatna tewas tertembak pada Rabu pukul 04.30 WIB di depan Gang Mandor, Jalan Otista, Ciputat. Ini adalah kasus penembakan polisi yang kedua dalam sebulan terakhir.

RIZKI PUSPITA SARI


09.35 | 0 komentar | Read More

Pengacara: Anak Hercules Tak Mau Sekolah

Hercules Rozario Marcal memasuki mobil tahanan ketika dibebaskan dari Rumah Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (3/8). TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO.CO , Jakarta:Kasus Hercules dinilai sebagai penyebab anak Hercules keder. Nama Hercules yang kerap disandingkan dengan kata preman dan premanisme sebagai dalihnya. "Hingga suatu saat salah seorang anak Hercules tak mau bersekolah lantaran malu dianggap anak preman," kata Pengacara Hercules, Boyamin Saiman di Markas Polda Metro Jaya, Sabtu, 9 Agustus 2013.

Saat tak masuk sekolah, anak Hercules membesuk ayahnya. Ia menceritakan alasan bolos seharian. Hercules menjelaskan kepada anaknya bahwa ia bukanlah pencuri, perampok, atau koruptor. "Bapak hanya luput dalam mekanisme perjanjian imbal jasa," kata Boyamin menirukan ucapan Hercules kepada anaknya.

Hercules kemudian meminta pengacaranya menghubungi pihak sekolah. Ia memohon agar guru-gurunya memberikan pengertian kepada anaknya. "Hercules terpukul karena ada pihak tertentu yang mengekpos pria kelahiran Timor-Timur itu dari sisi yang tak berimbang," kata dia.

Hercules Rozario Marshal, 45 tahun, sebelumnya ditahan sejak 4 Maret 2013. Ia adalah terpidana kasus melawan aparat penegak hukum yang sedang apel. Pada 3 Agustus 2013 di saat ia bebas, pria kelahiran Timor-Timur ini kembali ditangkap oleh Polres Metro Jakarta Barat. Ketua Gerakan Rakyat Indonesia Baru ini diduga melakukan pemerasan dari 2006 hingga 2013 di Jakarta Barat.

MUHAMMAD MUHYIDDIN


09.35 | 0 komentar | Read More

Adrianus: Polisi Pulang Berseragam Berlebihan

Written By Unknown on Sabtu, 10 Agustus 2013 | 09.35

TEMPO.CO , Jakarta:Kepolisian diminta meningkatkan pencarian pelaku penembakan polisi yang terjadi belakangan ini. Anggota Komisi Kepolisian Nasional Adrianus Meliala mengatakn kepolisian tidak perlu mempublikasikan setiap peristiwa penembakan polisi ke media massa. Publikasi dinilai hanya menunjukkan kelemahan kepolisian.

"Tingkatan pencarian," kata Kriminolog Universitas Indonesia itu ketika dihubungi Tempo, Jumat, 9 Agustus 2013. "Semua polisi harus waspada."

Adrianus menilai polisi bisa dianggap lemah lantaran lembaga yang personilnya bisa membela diri dan memegang sejata ketakutan. "Apalagi masyarakat," kata dia. Aparat kepolisian harus bahu-membahu mencari pelaku penembakkan misterius.

Adrianus juga menyarankan anggota kepolisian tidak berseragam dinas saat pulang dari kantor dalam kondisi seperti saat ini. "Ketika pulang dari dinas gak perlu pake seragam," ujar Adrianus. "Polisi agak berlebihan."

Dua polisi ditembak selama dua pekan terakhir. Korban pertama adalah Aipda Patah Saktiyono, 53 tahun ketika tengah mengendarai motor di Cirendeu, Tangerang. Korban selanjutnya, Aiptu Dwiyatna, anggota Binmas Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu lalu tewas tertembak pukul 04.30 WIB di depan Gang Mandor, Jalan Otista, Ciputat.

SINGGIH SOARES


09.35 | 0 komentar | Read More

Seribu Pedagang Akan Tempati Blok G Tanah Abang

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta Kukuh Hadi Santoso mengatakan Blok G, Pasar Tanah Abang, sudah siap digunakan untuk menampung pedagang kaki lima pada H+2 Lebaran, atau Minggu, 11 Agustus 2013.

Dia menilai kesiapan sudah mencapai 99 persen. "Sudah siap semuanya juga sudah dicat, sudah tinggal dipakai," kata Kukuh saat dihubungi Tempo, Jumat, 9 Agustus 2013.

Dia mengatakan kurang lebih ada 1.000 pedagang kaki lima yang mendaftar untuk berjualan di Blok G. "Target awalnya untuk 700 PKL," ujar Kukuh. "Namun saat ini yang mendaftar ada sekitar 1.000 pedagang."

Menurutnya, penambahan jumlah PKL ini didasari dari dukungan masyarakat setempat. Beberapa tokoh masyarakat dan ulama sangat mendukung relokasi demi terciptanya penataan pasar yang apik. Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Wali Kota, Camat pun turut serta membantu relokasi ini.

Kukuh menilai, sebagai pasar grosir terbesar di Asia Tenggara, relokasi ini sangatlah baik bagi ketertiban dan kenyamanan konsumen dalam berbelanja di Tanah Abang. "Pasar Tanah Abang itu sudah sangat dikenal oleh kalangan mancanegara, dengan adanya relokasi ini kan membuat suasana jauh lebih tertib."

Dengan tidak adanya PKL di jalanan, kemacetan pun bisa berkurang. Kukuh mengatakan, relokasi ini memberikan dampak sosial yang sangat signifikan, khususnya bagi warga sekitar. "Salah satunya ya berkurangnya macet, orang yang ingin melintas di sekitar Tanah Abang pun jadi nyaman, warga juga bisa beraktifitas dengan kondusif."

"Sangat bagus bagi PKL untuk direlokasi seperti ini," ujar Kukuh. "Ini melindungi mereka dari kejaran petugas Pamong Praja dan juga dari setoran-setoran illegal ."

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo juga sudah setuju dan cukup puas terhadap pembenahan Blok G. Saat memantau kesiapan Pasar Blok G Tanah Abang untuk menampung para pedagang kaki lima. Dia memeriksa ketiga lantai bangunan Blok G pada Selasa, 6 Agustus 2013, sore.

REZA ADITYA RAMADHAN


09.35 | 0 komentar | Read More

Hercules Muallaf Berlebaran Perdana di Sel

TEMPO.CO, Jakarta -  Bagi Hercules, Lebaran kali ini adalah yang pertama baginya. Menurut pengacaranya, Boyamin Saiman, Hercules mengaku tidak kecewa meski merayakannya di dalam penjara. Di rumah tahanan Narkoba di Kepolisian Metro Jaya, ia merayakan hari kemenangan itu bersama seluruh keluarga dan rekan-rekannya.

Pria yang ditahan atas dugaan pemerasan dan tindak pidana pencucian uang itu melebur bersama tahanan lainnya. Mereka sholat Idul Fitri bersama di komplek Mapolda Metro. "Mereka juga saling memohon maaf kepada polisi penjaga rutan," ucap Boyamin pada Sabtu 10 Agustus 2013 di depan Rutan Polda Metro Jaya.

Hari pertama lebaran, ia disambut dengan senyum sang istri dan keempat anaknya. Bahkan keluarga inti itu turut bersama saat malam takbiran. Hingga H+2, seluruh handai taulan dari berbagai suku dan daerah juga mengunjungi pria kelahiran Timor-Timur 45 tahun silam ini. "Ada kawan Hercules dari kawasan Indonesia Timur, Batak, Bali, Kalimantan, Jawa, dan lainnya," ucap Boyamin.

Karena banyaknya sahabat yang berkunjung, Hercules terlihat peluh kecapekan. "Namun wajahnya sumringah," tutur Boyamin. Hercules masuk Islam lantaran mengikuti jejak istrinya yang telah melakukan umroh berkali-kali. Sebenarnya sudah beberapa tahun ia belajar tentang Islam. Namun baru tahun ini ia menghadap ke Kementerian Agama untuk menjadi muallaf. "Biar ada pondasi keislaman yang kuat dulu. Setelah itu baru Hercules mantap mengucapkan dua kalimat syahadat," ucap pengacara bergelar haji ini. Puasa Hercules, lanjutnya, penuh satu bulan Ramadlan.

Pada Lebaran pertamanya, Hercules berharap agar kasus yang menimpanya segera menemukan benang merah. Ia tak mau jika dianggap preman yang suka memeras. Ia yakin berada pada posisi tak salah. "Hercules pantang memeras. Ia bukan jawara. Usahanya profesional," ucap Boyamin. Sehingga, ia merasa bahwa Hercules didzolimi.

Baginya, pasal pemerasan Rp 250 juta yang didakwakan padanya adalah tidak masuk akal. "Sudah ada hitam di atas putih, saksi, dan perjanjian itu dilaksanakan di restoran mewah yang terbuka," tuturnya. "Mana bisa itu disebut pemerasan?"

Ia juga mengatakan bahwa Hercules sering membantu korban kebakaran dan kebanjiran dengan nominal ratusan juta rupiah. Sehingga, jika sejumlah nominal uang yang disangkakan diperas oleh Hercules tidaklah sebanding dengan kekayaannya. Bagi Boyamin, Hercules adalah orang yang berkecukupan. "Sehingga tak ada alasan kuat baginya untuk melakukan aksi premanisme."

Perihal pencucian uang, Boyamin mengatakan hal itu mengada-ada. Hingga kini rencana Pra Peradilan dari kuasa hukum Hercules ini masih berjalan. Sekarang prosesnya pada tahap pematangan materi dan konsilidasi advokad. Ia menuturkan bahwa banyak sekali pengacara yang ingin bergabung dengannya. "Ini karena penerapan pasal pencucian uang bisa menyerang lawyer ketika membela klien."

MUHAMMAD MUHYIDDIN


09.35 | 0 komentar | Read More

Lebaran, Pasar Tenabang Sepi

Written By Unknown on Jumat, 09 Agustus 2013 | 09.35

TEMPO.CO, Jakarta - Suasana di sekitar Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta Pusat, terlihat berbeda dari hari-hari biasanya. Pada lebaran ini, Kamis, 8 Agustus 2013, di sekitar pusat belanja terbesar di Asia Tenggara itu jauh dari keramaian aktivitas pedagang kaki lima (PKL).

Arus lalu lintas di sepanjang jalan Fachruddin lancar. Kendaraan bermotor dapat melaju dengan leluasa. Kondisi seperti ini pastinya tidak akan dapat dijumpai pada hari-hari biasa. Sebab, pedagang kaki lima kerap menjual barang dagangannya di pinggir jalan.

Saat ini, hanya terlihat segelintir pedagang kaki lima yang berjualan. Salah satunya adalah Parman, 56 tahun. Dia memutuskan berdagang di hari Lebaran  demi memenuhi kebutuhan hidup. "Buat kebutuhan perut. Berapa sih untungnya dagangan begini," ujar pedagang mainan anak-anak itu.

Suasana di Blok G juga sepi. Gedung yang nantinya bakal menjadi tempat relokasi pedagang kaki lima ini jauh dari aktivitas jual-beli. Di bagian depan, hanya terdapat beberapa pedagang yang menjual bunga tabur dan sembako. Di tempat jagal kambing malah tidak ada kegiatan.

Pintu masuk ke dalam area penjagalan dirantai besi dan digembok. Menurut Samsumar, pedagang pakaian di Blok G, penjagalan akan kembali di buka besok. "Besok kan orang sudah mulai dagang," tutur pria berkumis itu.

SINGGIH SOARES


09.35 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger