Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Banjir Tahun Ini, Ahok Salahkan Depok

Written By Unknown on Selasa, 14 Januari 2014 | 09.35

TEMPO.CO , Jakarta:-- Banjir yang mengepung Ibukota tahun ini, menurut Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama tak separah tahun lalu. Meski begitu, tetap saja sejumlah wilayah ibu kota terendam banjir. Bahkan sejumlah wilayah yang tidak pernah tergenang, ikut kebagian jatah banjir.

Menurut Ahok,  jebolnya Tanggul Kali Laya yang ada di Depok, Jawa Barat, menjadi penyebabnya. "Dulu, Cibubur tidak kena, sekarang kena," kata Ahok di Jakarta, Senin 13 Januari 2014. " Itu akibat tanggul yang jebol,"

Ahok mengaku sudah menghitung kemungkinan itu, sejak beberapa waktu lalu. Karena itu, pemerintah DKI Jakarta mewacanakan akan membeli tanah di Depok untuk membangun waduk.

Namun toh, rencana itu tak disetujui Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail. Menurt Ahok, Pemprov DKI pun mengalihkan rencana untuk membuat sodetan-sodetan. Melalui sodetan ini, debit air dialihkan. Sodetan itu akan mengalirkan air menuju ke Kanal Banjir Timur dan ke Cisadane.

" Karena itu,kami harus hibahkan maslah ini ke Pemerintah untuk mengerjakan itu," kata Ahok.

ANGGRITA D | WDA

Berita terpopuler
Isi BBM Akil Soal Duit Rp 10 M di Pilkada Jatim
Titik-titik Banjir di Jakarta Pagi Ini
Malam Ini, Mahfud MD Bongkar Manuver Akil
Pantau Banjir, Jokowi Malah Diminta Jadi Presiden 


09.35 | 0 komentar | Read More

Bus Tingkat DKI Tiba Selasa Siang Ini

PO Nusatara mengujicobakan Bus Tingkat yang ramah lingkungan di jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta (9/1). Bus berseri MAN R37 yang siap dipasarkan secara massal dan dapat digunakan sebagai bus tingkat wisata ini karoserinya dilakukan di dalam negeri. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Pariwisata Arie Budiman mengatakan bahwa kapal pembawa bus tingkat atau double dekker DKI Jakarta sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. "Kapal sedang proses sandar di Terminal 1," kata Arie kepada Tempo via pesan elektronik, Selasa, 14 Januari 2014.

Arie memperkirakan proses sandar memakan waktu lama. Alasannya, ada banyak kapal yang juga tengah melakukan proses sandar di Terminal 1. "Karena adanya antrian itu, maka penurunan bus kira-kira baru bisa jam 09.00 nanti," ujar Arie melengkapi pernyataannya.

Bus tingkat ini sesungguhnya direncanakan tiba 10 Januari 2014. Namun, cuaca buruk membuat bus wisata itu tertahan di Pelabuhan Hongkong.

Pemerintah DKI Jakarta mendatangkan lima unit bus tingkat khusus pariwisata dari Cina. Bus dibeli menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2013 sebesar Rp 15 miliar. Lelang pengadaan pada September-Oktober 2013 ini dimenangkan oleh PT Putriasi Utama Sari.   Bus ini akan melayani sejumlah rute wisata di Ibu Kota. (Baca: Bus Wisata Gratis Juga Dipesan dari Cina)

ISTMAN MP


09.35 | 0 komentar | Read More

Cegah Banjir, BNPB Sebar Hujan ke Laut

Navigator mengoperasikan radar pesawat Hercules dalam operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO.CO, Jakarta -Hujan akhir pekan lalu membuat sejumlah kawasan di DKI Jakarta tergenang. Karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana melakukan modifikasi atau rekayasa cuaca DKI Jakarta, Selasa, 14 Januari 2014. Modifikasi ini dilakukan setelah Gubernur Joko Widodo menyetuji pemberlakuannya.

Modifikasi cuaca ini berlangsung selama dua bulan ke depan. Kepala BNPB, Syamsul Maarif mengatakan Teknologi modifikasi cuaca ini tidaklah memindahkan hujan, tapi mendistribusikannya ke laut. BNPB akan memantulkan awan, lalu membawanya ke laut dan menjatuhkan hujan di laut.

Hujan yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak Ahad, 12 Januari 2014 hingga Senin, 13 Januari 2014, membuat beberapa wilayah di Jakarta terendam banjir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengungkapkan penyebab banjir Jakarta adalah perubahan tata lingkungan. Kepala Meteorologi Publik BMKG, Mulyono Prabowo, menganggap daya serap tanah Jakarta terhadap air sudah turun sehingga tanah mulai jenuh. (Baca: Banjir, Jagorawi Macet Total!  )

Namun dipastikan curah hujan Jabodetabek dua hari terakhir masih lebih rendah dibandingkan musim hujan tahun lalu. Tahun ini BMKG memperkirakan curah hujan rata-rata 110 milimeter. "Tahun lalu turun secara merata, bahkan di sejumlah tempat ada yang mencapai 140 mililiter per hari," kata Mulyono. 
 
AFRILIA SURYANIS | DIMAS SIREGAR


09.35 | 0 komentar | Read More

Ribuan Sumur Resapan Bukan Solusi Banjir Jakarta

Written By Unknown on Senin, 13 Januari 2014 | 09.35

Warga membantu seorang wanita sat melewati genangan banjir yang mulai memasuki pemukiman mereka dikawasan Bukit Duri, Jakarta, (12/1). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta - Pembangunan sumur resapan di Jakarta belum dapat menyelesaikan masalah genangan air di Ibu Kota. "Sumur resapan bukan untuk mengendalikan banjir," ujar Kepala Dinas Perindusterian dan Energi Jakarta Andi Baso, Senin 13 Januari 2014.

Menurutnya, hasil observasi di lima titik pembangunan sumur resapan di sekitar Balai Kota Jakarta memperlihatkan bahwa kapasitas resap air sumur resapan hanya mencapai 40 meter kubik per hari. Berarti sumur hanya mampu menyerap dua meter kubik air per jam. Sementara itu, hujan yang turun jauh lebih besar dari kapasitas yang bisa ditampung.

Karena itu, kata Andi, pembangunan sumur resapan di Jakarta lebih ditujukan untuk konservasi air tanah. Sedangkan upaya mengatasi banjir bisa dilakukan dengan perbaikan drainase, penambahan pompa air, dan pembuatan waduk.

Sampai sekarang, pembangunan sumur resapan di Ibu Kota sudah mencapai 80 persen dari target 1.949 sumur. Sebagian diletakkan di lokasi yang memang titik rawan genangan air. Kedalaman sumur tergantung dari lokasi yang dipilih, mulai dari 3 meter sampai 60 meter.

Memang, menurut Andi, pembangunan sumur resapan lebih bermanfaat di daerah Selatan Jakarta. Karena, muka air tanah di wilayah tersebut lebih rendah sehingga air bisa menyerap lebih banyak ke dalam sumur. Berbeda dengan di wilayah Pusat dan utara. Muka air tanah di kedua wilayah itu sudah tinggi.

SUTJI DECILYA


Baca juga:

Hujan Bubarkan Beragam Kampanye Jokowi Nyapres
Dukung Pencapresan Jokowi, Ratusan Waria Pawai
Jika Jokowi Nyapres, Ini Cawapres Pilihan Waria
Waria: Jokowi Patut Diperjuangkan


09.35 | 0 komentar | Read More

Banjir, Jagorawi Macet Total!

TEMPO.CO, Jakarta - Hujan yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak Ahad, 12 Januari 2014 hingga Senin pagi ini, membuat beberapa jalan arteri tergenang banjir. Akibatnya, lalu lintas kendaraan di tol Jagorawi tak bergerak sedikit pun.

Kepala Humas PT Jasa Marga, Wasta Gunadi mengatakan penumpukan kendaraan di ruas tol Jagorawi ini karena meluapnya Kali Cipinang. "Kali Cipinang meluap di kilometer 4, akibatnya kendaraan susah bergerak," kata Wasta kepada Tempo, Senin, 13 Januari 2013.

Penumpukan kendaraan di tol Jagorawi ini terjadi di kedua arah dari Bogor ke Jakarta dan Jakarta Bogor. "Kepadatan sampai gerbang tol Cimanggis," ujarnya.

Sementara, kepadatan juga terjadi di tol dalam kota. Kendaraan mengarah Grogol tersendat mulai dari Cawang. "Titik kepadatannya Cawang-Tegalparang dan arah sebaliknya Grogol-Semanggi," kata Wasta.

Berdasarkan pantauan Tempo, ekor kemacetan dan kepadatan tol Jagorawi hingga memasuki gerbang tol dalam kota mengular hingga ke Jatibening, tol Cikampek. Tol Wiyoto-Wiyono, juga padat di kedua arah dari dan ke Tanjung Priok. Kemacetan juga terjadi di kedua arah tol Jakarta-Cikampek. Kendaraan yang keluar Halim, Cawang juga tersendat.

Di tol Jagorawi, beberapa kendaraan motor nekat masuk ke dalam tol dari Taman Mini menuju Cawang, karena tingginya air di Jalan Hex, Kampung Makasar mencapai 1 meter. Akibatnya kendaraan dari Taman Mini menuju Cililitan tidak bisa melintas.

AFRILIA SURYANIS


Baca juga:

Hujan Bubarkan Beragam Kampanye Jokowi Nyapres
Dukung Pencapresan Jokowi, Ratusan Waria Pawai
Jika Jokowi Nyapres, Ini Cawapres Pilihan Waria
Waria: Jokowi Patut Diperjuangkan


09.35 | 0 komentar | Read More

Banjir, PLN Padamkan 130 Gardu Listrik

kemacetan yang terjadi akibat terbakarnya gardu listrik milik PLN di Cawang, Jakarta Timur, Rabu (2/10). TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

TEMPO.CO, Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang menyatakan telah memadamkan aliran listrik sebagai antisipasi agar tidak terjadi hubungan arus pendek akibat curah hujan dan banjir.

"Hingga pukul 07.00 WIB, sebanyak 130 gardu listrik di sekitar Jakarta dan Tangerang dipadamkan," ujar Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Disjaya, Roxy Swagerino, Senin, 13 Januari 2014.

Roxy mengatakan, pemadaman listrik dilakukan demi keselamatan pelanggan. Adapun gardu-gardu listrik yang dimatikan dengan sebaran di Area Menteng, Jatinegara, Pondok Gede, Kramatjati, Pondok Kopi, Bulungan, Lenteng Agung, Bintaro, Kebun Jeruk, Cikokol, dan Cengkareng.

Menurut Roxy, ada beberapa hal yang menyebabkan PLN memutuskan aliran listrik, di antaranya apabila rumah pelanggan kebanjiran atau jika gardu distribusi PLN tergenang air.

PLN menghimbau masyarakat yang terkena banjir mematikan sekering (meter circuit breaker/MCB) dan semua peralatan listrik dengan mencabut kabel dari stop kontak.

Baru kemudian jika banjir mulai surut dan keadaan sudah aman, masyarakat mengeringkan dengan sempurna semua peralatan listrik sebelum dipakai kembali. "Seperti saklar dan stop kontak yang sempat terendam banjir," ujarnya.

AYU PRIMA SANDI

Berita Terpopuler Lainnya:

Hujan Seharian, Hindari Titik Banjir Jakarta Ini
Titik-titik Banjir di Jakarta Pagi Ini
Fakta Lain tentang Richard Kevin  
Bungkam Cagliari 1-4, Juventus Catat Rekor
Pantau Banjir, Jokowi Malah Diminta Jadi Presiden  


09.35 | 0 komentar | Read More

Waduk Pluit Kembali Dikeruk

Written By Unknown on Minggu, 12 Januari 2014 | 09.35

TEMPO.CO , Jakarta:Kepala Dinas Pekerjaan Umum Manggas Rudi Siahaan mengatakan pihaknya sudah melanjutkan pengerukan Waduk Pluit. "Sudah lanjut kok, kami keruk terus," ujar Manggas ketika dihubungi Tempo, Sabtu, 11 Januari 2014.

Pengerukan itu, kata Manggas, ditandai dengan masuknya sejumlah alat keruk (backhoe) ke kawasan Waduk Pluit. Manggas berkata, pihaknya sudah menerjunkan enam alat keruk ke Waduk Pluit.

Enam alat keruk itu, kata Manggas, bukan berasal dari PT Brahmakerta lagi, melainkan dari Dinas PU langsung. PT Brahmakerta adalah perusahaan yang melakukan pengerukan waduk tahun lalu dan sempat berhenti karena kesalahpahaman soal ukuran selesainya pengerukan.

Manggas melanjutkan, kedalaman waduk saat ini rata-rata sudah lebih dari lima meter. Adapun kedalamannya bervariatif, ada yang sudah mencapai tujuh meter, ada yang belum.

Angka tersebut masih jauh dari kedalaman prima Waduk Pluit. Kedalaman waduk di kondisi paling awal mencapai 10 meter lebih. Namun kedalaman itu mengalami pendangkalan sebanyak 8 meter karena masuknya limbah dari rumah rumah liar di bantaran.

ISTMAN MP


09.35 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger